Studi hidrogeologi dan geofisika pada satu kawasan industri pesisir menemukan akuifer utama pada kedalaman 5 sampai 25 meter, arah aliran air tanah dominan ke barat dan barat laut, serta zona resistivitas sangat rendah yang menunjukkan pengaruh air asin atau payau. Dari hasil itu direkomendasikan tiga sumur pantau: satu di hulu, dua di hilir.
Masalahnya, risiko air tanah jarang terlihat dari permukaan. Tapak industri bisa tampak stabil, sementara di bawahnya ada akuifer, lapisan kedap, dan air payau yang merembes dari arah pantai. Kalau sumur pantau dipasang sebelum sistem ini dipahami, titiknya bisa saja tidak mewakili aliran yang seharusnya diawasi.
Kajian ini menggabungkan pemetaan geologi permukaan, pengamatan hidrogeologi, analisis curah hujan, informasi regional, data borehole, dan pengukuran resistivitas 2D. Tidak ada satu data yang berdiri sendiri; kerangka hidrogeologinya dibangun dari irisan semuanya.
Delapan lintasan diukur pada arah utara-selatan dan barat-timur dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger 48 channel, bentangan 235 meter, dan spasi elektroda 5 meter. Hasil inversinya berkisar 1 sampai 1.500 Ωm, lalu ditafsirkan bersama data geologi dan borehole.
Rentang nilainya dibaca seperti ini:
Rentang ini berlaku untuk tapak ini. Di lokasi lain dengan litologi atau salinitas berbeda, ambangnya harus dikalibrasi ulang terhadap data bor setempat.
Interpretasi menunjukkan akitard di bagian atas dan sistem akuifer di bawahnya. Dari konfigurasi itu, tiga lokasi sumur pantau dipilih: satu di hulu untuk data rona awal, dua di hilir untuk menangkap perubahan searah aliran. Titik hulu direncanakan pada elevasi 46 meter dengan kedalaman 40 meter. Dua titik hilir berada pada elevasi 12 dan 8 meter, masing-masing sedalam 20 meter.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel 1. Koordinat, elevasi, dan kedalaman rencana tiga sumur pantau. SP-1 di hulu, SP-2 dan SP-3 di hilir.
Penempatannya mengikuti arah aliran yang ditafsirkan, bukan pembagian rata di atas peta tapak. Sumur hulu memberi pembanding sebelum air melewati area operasi; sumur hilir menunjukkan apakah ada yang berubah setelahnya.
Air payau yang teridentifikasi berarti risiko korosi pada infrastruktur pemantauan. Konstruksi sumur pantau direkomendasikan memakai PVC heavy-duty atau material non-korosif lain. Setelah terpasang, muka air tanah diukur berkala dan kualitas air diuji secara fisik dan kimia.
Dengan model aliran seperti ini, tim lingkungan memantau terhadap sesuatu yang nyata, bukan asumsi batas tapak. Tim konstruksi dan desain juga mendapat gambaran di mana lempung, di mana batu pasir jenuh air, dan di mana kontras litologinya.
Kalau proyek Anda berada di kawasan pesisir atau berdekatan dengan sumber air payau, hubungi PT Prihaditama untuk membahas survei hidrogeologi dan geofisika sebelum sistem pemantauan dipasang.
Menggambarkan keberadaan air tanah, arah alirannya, dan hubungan antara akuifer dengan lapisan yang lebih kedap. Informasi ini menjadi dasar perancangan sistem pemantauan dan pengelolaan lingkungan, dan jauh lebih kuat dibanding menempatkan sumur hanya dari bentuk tapak di permukaan.
Variasi resistivitas listrik di bawah permukaan. Jika digabung dengan data geologi dan borehole, variasi itu membantu membedakan lempung jenuh air, batu pasir pembawa air, batuan lebih padat, dan zona konduktif yang berkaitan dengan air asin.
Arah aliran menentukan lokasi mana yang mewakili kondisi hulu sebagai rona awal, dan mana yang cocok untuk pemantauan hilir. Tanpa itu, perubahan kualitas air di satu sumur sulit ditafsirkan.
Ya. Zona konduktif dari air asin atau payau memengaruhi interpretasi air tanah dan menaikkan risiko korosi pada sumur pantau. Pemilihan material dan desain pemantauan perlu menyesuaikan.
Nilainya ada pada pengurangan ketidakpastian sebelum masalah air tanah menjadi persoalan operasional atau lingkungan. Datanya dipakai untuk menentukan lokasi pemantauan, desain sumur, dan cara membaca perubahan berikutnya.
10 August, 2026
groundwater-survey-aquifer-seawater-risk