Peta anomali magnetik menunjukkan di mana anomali berada dan bagaimana sebarannya. Peta itu belum menunjukkan bahwa di sana ada bijih, dan belum memberi angka cadangan. Lokasi bor atau sampel ditentukan dari tafsiran ahli, sedangkan cadangan baru dihitung setelah sampel diuji secara kimia.
Dalam praktik umum yang dijelaskan produsen magnetometer Geometrics, magnetometer portabel mengukur kuat medan magnet di seluruh area survei sepanjang banyak lintasan paralel. Hasil ukurannya disusun menjadi peta anomali magnetik. Prihaditama menjalankan survei seperti ini untuk eksplorasi mineral besi, seperti diuraikan dalam artikel survei magnetik base-rover untuk eksplorasi mineral besi di Sumatra, yang memakai tiga magnetometer GEM Systems GSM-19T. Alasan survei semacam itu memakai base station sudah dibahas terpisah dalam tulisan tentang mengapa survei magnetik memakai base station.
Menurut halaman Prihaditama, survei magnetik memetakan posisi dan sebaran anomali. Estimasi kedalaman sumbernya membutuhkan pemodelan lanjutan dan biasanya dipadukan dengan metode lain. Jadi peta yang sudah jadi adalah bahan kerja untuk tahap berikutnya, bukan kesimpulan.
Menurut Geometrics, ahli geologi ekonomi atau geofisikawan memakai peta anomali untuk menyimpulkan perkiraan lokasi konsentrasi besi. Dari penilaian itu dipilih lokasi pengeboran atau pengambilan sampel, dan cadangan bijih besi dihitung dari assay kimia sampel tersebut.
Urutannya penting bagi pembaca yang mengambil keputusan: peta, tafsiran, sampel, lalu assay. Setiap tahap menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab tahap sebelumnya.
Geometrics juga menyebut bahwa menjalankan survei dan membuat peta anomali yang berguna tergolong murah dibandingkan interpretasi data, pengambilan sampel, dan assay. Mereka menyarankan survei dikerjakan bersama geolog atau geofisikawan yang mengenal wilayah prospek. Bagi pemilik proyek, artinya anggaran dan jadwal sebaiknya tidak berhenti pada pengukuran lapangan.
Pemodelan menambahkan dimensi yang tidak terbaca langsung dari peta. Sebagai contoh, studi di pesisir Nusawungu, Cilacap, menghasilkan model endapan ketiga dengan panjang 1,306.26 m dan kedalaman 3.70 – 58.69 m. Angka itu adalah estimasi hasil model untuk satu lokasi pesisir di Jawa. Angka tersebut belum dikonfirmasi pengeboran dan tidak bisa dipakai sebagai gambaran lokasi lain.
Dalam studi yang sama, nilai suseptibilitas magnetik yang tinggi ditafsirkan penulisnya sebagai tanda banyaknya mineral magnetik, yaitu bijih besi, di dalam batuan. Kata kuncinya adalah "ditafsirkan": nilai suseptibilitas menjadi petunjuk, dan kepastiannya tetap datang dari sampel dan assay.
Data magnetik tidak berdiri sendiri. Menurut Prihaditama, data dari survei di Sumatra dimaksudkan untuk diintegrasikan dengan pemetaan geologi permukaan, lalu dipakai merencanakan tahap eksplorasi berikutnya dan menentukan koordinat titik bor. Itu adalah rencana kerja, belum hasil pengeboran.
Pandangan kami, pemetaan geologi permukaan membantu karena anomali magnetik dapat dibandingkan dengan batuan dan struktur yang terlihat di lapangan, sehingga tafsirannya punya pembanding. Pembeli jasa survei dapat mempersiapkan beberapa hal sebelum survei dimulai:
Bila Anda sedang merencanakan survei magnetik atau ingin membahas bagaimana datanya dipadukan dengan pemetaan geologi, ceritakan area dan tujuan eksplorasi Anda melalui halaman layanan survei geomagnet kami.
14 October, 2026
Admin Prihaditama